Pages

Kamis, Desember 19, 2019

Pohon Akasia Di Tepi Empang


                                                        Pohon Akasia(dok:bandaaceh.go.id)



Musim kemarau yang kering,meski malam mulai larut namun udara masih terasa gerah. Dengan berbalut kaus kutang yang tak nampak kebelelannya karena memang malam seakan menyelimuti dengan kegelapan, Nurdin menenteng sisa kopi di gelas plastik yang dipesan dari warung si Mbah. Masih terdengar derit kayu yang beradu pertanda Mbah menutup warungnya.
Jam tangan menunjukan arah jarum ke angka sebelas untuk jarum pendek dan angka enam untuk jarum panjang, dengan pelan Nurdin menuju ke tepi empang di mana di sana tumbuh dengan subur pohon Akasia dengan daun daunnya yang ramping memanjang. Biasanya jika sore hari atau hari libur, empang banyak di kunjungi warga perumahan atau pun warga Kampung Kandang untuk memancing.

Dahulu saat musim Pilkada,salah satu calon wakil Bupati pernah bertandang ke empang dan sengaja menyebar ikan untuk di pancing, sisa sisa kampanye ternyata membiakan ikan ikan di empang,maka kalau mujur ada Nila atau Mujaer yang bisa di dapat. Nurdin berjongkok di tepi empang sambil menikmati sebatang rokok. Angin semilir di tengah malam membuat ia merasa nyaman. Sepulang kerja memang Nurdin acap kali memilih rehat sejenak sebelum beranjak tidur, pilihannya adalah nyantai di tepian empang.
Dari kejauhan terdengar suara gonggongan anjing, mungkin si Bruno yang kesepian karena tuannya sudah pergi entah kemana, bila pun ada suara anjing tak menakutkan bagi Nurdin karena dipastikan itu suara si Bruno yang memang kerap hilir mudik di seputaran perumahan. Sesekali terdengar juara jangkrik, malam semakin sepi, warga perumahan tampaknya sudah mulai nyaman di peraduan.
Dalam beberapa menit hanya kepulan asap dan juga tegukan terakhir kopi gelas plastik seakan merajai suasana tepi empang, niat Nurdin buat balik badan menuju rumah sedikit terhenti. Entah datangnya dari mana tetiba ada sosok lain yang menemani Nurdin.
“Numpang ngadem ya Bang, gerah sekali malam ini.”
Nurdin melirik sekilas, seorang wanita memunggungi Nurdin, terlihat samar rambut yang menutupi badannya yang di balut kain berwarna putih.
“ Oh iya silahkan nggak apa apa kok, namanya juga empang milik umum, siapa pun boleh beristirahat di sini,” jawab Nurdin dengan gaya cool dan kalem.
“Manusia zaman sekarang memang benar benar serakah dan rakus, rasanya aku benci dengan mereka,” ketus perempuan berambut panjang itu membuka obrolan.
“Lho kok gitu? Nggak semuanya kali Mbak,” tukas Nurdin cepat.
“Dahulu tempat ini adalah arena bermain bagi kami, sawah yang membentang, padang ilalang serta pohon pohon besar menjadi tempat seru untuk bermain, namun tiba saatnya semua itu hilang dan musnah. Tanah di uruk dan rumah pun berdiri sana sini, kemana pula kami bermain main,” ungkap perempuan berambut panjang dengan nada masygul,kecewa.
“Susah sih Mbak bagaimana pun orang butuh rumah dan akhirnya jadilah sawah di sulap jadi tempat tinggal, apa lagi memang semakin kemari sawah makin di gusur lalu di bangunlah rumah, kantor atau ruko,” ujar Nurdin seraya membuang puntung ke arah empang.
Tak di minta namun perempuan berambut panjang terus mengoceh, tentang kemurkaannya yang menganggap manusia serakah,main gusur, main embat dan semua di sikat, sawah pun tak luput dari incaran agar bisa di bangun perumahan, membongkar kuburan untuk membangun gedung tinggi menjulang, semua itu karena duit, duit dan duit serta nafsu keserakahan yang tiada henti.
“ Hanya satu yang di sisakan oleh manusia serakah, cuma ini sebatang pohon Akasia yang beruntungnya nggak di tebang.”
Nurdin hanya diam dan berusaha mencerna omongan perempuan yang baru saja di lihatnya malam ini. Semilir angin malam membawa semerbak bau bunga melati, apakah perempuan itu mencium juga apa yang di rasakan Nurdin? Malam semakin larut, teman ngobrol Nurdin masih duduk di posisi semula, gemerisik daun Akasia di terpa angin dan beberapa di antaranya jatuh ke empang.
“Memang Mbak sudah lama tinggal di sini? Tanya Nurdin.
“Semenjak dahulu sudah di sini, sebelum tempat ini menjadi ramai karena di buat perumahan, tak ada lagi ketenangan di sini, tegalan, pematang dan juga kebon kebon telah raib di ganti rumah rumah, namun untung juga pohon Akasia di sini dan juga pohon Serut yang di ujung perumahan masih tersisa dan ada teman kami untuk bermain,” lirih perempuan berambut panjang berkata.

Seliweran aroma melati makin mengental, Nurdin merasa bulu kuduknya mulai berdiri, tak biasanya ia merasakan hal seperti ini. Belum pulih benar Nurdin berpikir tentang bau melati dan tiba tiba perempuan sudah melesat ke arah dahan pohon Akasia yang menjulur ke arah Empang. Posisi nya masih membelakangi Nurdin namun sudah berayun ayun di pohon Akasia.
Antara percaya dan tidak percaya, Nurdin menggosok gosokan telapak tangan ke mata, ini mimpi atau bukan. Beberapa jenak terdengar tawa lirih perempuan berambut panjang.
“Hihihihihihi....anak muda terima kasih sudah mendengarkan kegalauanku malam ini, tapi ingat ingat ya bahwa pendapatku tentang manusia serakah yang membabat habis sawah, menebang pohon sembarangan adalah hal yang membuatku sedih,hihihihi aku akan menuju pohon Serut.”

Nurdin menatap dengan pandangan nanar, antara percaya dan nggak percaya, tubuh perempuan itu melayang di atas empang, menyisakan juga tawanya yang makin membuat Nurdin merinding tak karuan, tawa itu masih tersisa meski tubuh perempuan panjang sudah mulai lenyap dari pandangan. Yakinlah Nurdin kini bahwa malam ini ia bertemu dengan kuntilanak penghuni pohon Akasia di samping Empang, lalu Nurdin pun tak sadarkan diri.
Nurdin merasakan tubuhnya terguncang hebat, matanya mulai terbuka dan terlihat samar wajah Mang Karim yang tertangkap oleh bola matanya.

“Woooi bangun euy bangun! Tidur kok di pinggir empang.”
Nurdin mengucek mata dan mulai mengumpulkan kesadarannya, Mang Karim berjongkok di sampingnya sambil terus bertanya kenapa ia tertidur di tepian empang.
“Kayaknya saya ngantuk berat tadi malam Mang Karim, kejadian deh ketiduran, maklum pelor sih nempel langsung molor,”ungkap Nurdin dengan suara malu malu.
Mang Karim terkekeh mendengar jawaban Nurdin, lalu ia pun berlalu ke arah musholla, terdengar suara orang mengaji, tampaknya waktu telah menuju waktu Shubuh. Semalam bertemu Kuntilanak, ngeri ngeri gimana gitu namun Nurdin berjanji tak akan bercerita kepada siapa pun akan pertemuannya dengan Kuntilanak penunggu pohon Akasia, biarlah ini menjadi sebuah rahasia baginya, kalau ia bercerita nanti di anggap Koplak gitu lho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar