Pages

Minggu, Maret 25, 2018

Sayangku Si Pemahat Aksara


   

                   Mursinah memandang haru lelaki yang tertidur dengan posisi tertelungkup dan di sampingnya layar laptop yang masih menyala, seperti biasa kamar kerja terlihat berantakan dengan hamparan buku sana sini. Perlahan Mursinah memberikan selimut seraya membetulkan posisi bantal guling agar bisa di dekap pria yang nampak kelelahan itu. Ada setangkup perasaan bangga melihat betapa pria yang di cintainya itu telah benar benar menunaikan ucapannya dua dasawarsa lalu.

                    “Aku akan membahagiakan kamu Mung! Dan itu sebuah janji yang akan aku penuhi hingga kapan pun.”

Begitulah ucapan yang selalu di ingat Mursinah dan akhirnya ia pun mau di nikahi oleh pria asal Kuningan itu, meski memang janji membahagiakan telah terlunasi dan ia rasakan betul betapa pria gagah itu adalah tambatan hati yang telah memikatnya, bukan melulu dengan cara ngegombal namun benar benar di buktikan dengan kerja keras. Ingat betul Mursinah akan perjuangan lelakinya untuk meyakinkan Baba bahwa ia tak akan menyiakan puteri kesayangan, dan dengan pendekatan ke Emak dan saudara saudara meski saat itu pria tangguh yang ia kenal belum memiliki pekerjaan tetap.
Akhirnya restu pun di dapat, dan pernikahan sakral dengan balutan kesederhanaan dapat terwujud. Untuk urusan meyakinkan orang, Rudi memang jagonya entahlah karena mungkin ia berjiwa seni dan selalu saja ada alasan mengapa orang percaya dengan tutur katanya.

                      “Lho Diajeng kok sudah di sini sih?”

                      Reflek Mursinah menoleh ke arah suaminya yang telah bangun, selalu suka dengan panggilan diajeng yang di lontarkan suami tercinta, apalagi di tambah dengan sebutan “Mung” yang merupakan panggilan kesayangan.

                         “ Dih bisanya ngagetin mulu deh, tuh liat udah beres dong kamar kerjanya, dasar jorok ah, kalau nulis pasti ruangan berantakan,” ungkap Mursinah pura pura sewot.
Lelaki di hadapannya tertawa kecil.” Entah mengapa aku selalu suka suasana berantakan jika dalam masa deadline, mungkin power of kepepet ya.”
Mursinah terkikik mendengar pengakuan suaminya yang kerap di ulang sat ia membereskan ruangan kerja.
                           “Dasarnya aja jorok dari sononya!”

Mereka pun tertawa bersama, Mursinah hapal sekali dengan tabiat suaminya, dan memaklumi walau dulu sering misuh misuh karena ulah suaminya. Dari dulu ia paling nggak betah dengan suasana rumah yang berantakan, berbanding sebaliknya dengan Rudi yang selalu suka ruangan awut awutan dengan serakan buku, alat tulis hingga sisa makanan. Mungkin inilah yang di bilang dengan saling melengkapi, yang satu resik dan yang satunya berantakan. Tapi dari karakter yang berbeda rumah tangga mereka awet di pernikannya memasuki tahun ke delapan belas dengan dua jagoan dan satu princess yang imut.

                         “Makasih ya diajeng Mung, kamu memang ngertiin banget deh, untunglah hari ini DL udah kelar, tinggal nunggu invoice cair.”

                         “Alhamdulilah, eh tapi jangan lupa 2,5 persen tuh,” balas Mursinah mengingatkan.
Rudi mengacungkan ibu jari kanannya, beberapa jenak kemudian ia pun berlalu dari suami tercintanya, meski baru dini hari namun persiapan jelang pagi memang harus di lakukan agar semua urusan di rumah menjadi beres.

Mentari pun menyapa mayapada, sarapan sudah oke dan tiga buah hatinya telah berangkat ke sekolah, pria gagah pun tadi berpamitan karena ada pertemuan dengan komunitas blogger dengan salah seorang menteri di hotel berbintang ibu kota. Mungkin ini jalan hidup dan bersama dengan penulis, di mulai dari sebuah mesin tik hingga kini bersenjata gawai dan juga laptop, meski penghasilan tidak tetap setiap bulannya seperti para pegawai kantoran, namun berkat menulislah ia dan Rudi mampu mengayuh biduk rumah tangga.

Meski acap kali ada saja tetangga yang merasa heran dengan status suaminya sebgai penulis lepas dan kini berkecimpung juga di dunia perbloggan, tapi sejauh mencari rezeki halal meski merangkai kata kata, alhamdulilah dapur mah tetap ngebul. Meski di awal awal cukup pontang panting namun semua itu bisa teratasi, semua itu dari hobi menulis. Apalagi zaman now di mana posisi blogger pun semakin di perhitungkan, kata suami mah sekarang ia telah menjadi cowok endorse.

Media sosial mampu membawa banyak perubahan, lewat instagram, facebook ataupun twitter, job job menulis bisa di dapat. Meski pengen banget Mursinah mengikuti gaya suaminya tetap saja tidak bisa, ia merasa buntu bila berhadapan dengan laptop, acap kali Rudi mengajarkan cara menyusun kalimat agar menjadi sebuah cerita yang enak di baca, tetep saja ia tak mampu.

Namun bukan ia benci dunia tulis menulis, bahkan Mursinah sangat bangga dengan profesi lelakinya sebagai blogger, maka berdatangan pula rezeki yang ia nikmati gara gara menulis. Liburan ke Belitung dan melihat langsung lokasi syuting film fenomenal Laskar Pelangi karena Rudi juara ngeblog. Dapetin paket menginap di hotel yang berlokasi sepelemparan batu dari pantai Senggigi karena dapat voucher menginap plus tiket pesawat karena ayahnya anak anak dapet juara dua lomba menulis pariwisata.

Pernah Mursinah mendambakan sebuah busana muslimah yang harganya lumayan mehong, alih alih mengeluarkan duit, ternyata suaminya membawa goodie bag yang ternyata di dapat setelah ada acara yang di selenggarakan produsen busana muslimah bareng para blogger. Nikmat manakah yang kamu dustakan?

Suara handphone berdering membuyarkan lamunan Mursinah tentang pencapaian suaminya saat ngeblog. Sebuah nomor yang sangat ia hapal, nomornya Rudi.
                                     “Assalamualaikum Diajeng.”
                                     “Waalaikum salam Aa Rudi ada apa?”
                                     “Pengen ngasih tahu aja, siapin koper dan kita liburan sepekan nih, ternyata pak Menteri ngajakin para blogger untuk bersiap ke Raja Ampat dan aku salah satu blogger yang terpilih,” ucap Rudi dengan intonasi kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
                                     “Subhanallah, Raja Ampat Aa? Papua! Amazing pisan, siap lah kalau begitu mah,” ungkap Mursinah dengan mata berbinar.

Setelah beberapa saat berkomunikasi, akhirnya Mursinah mengakhiri obrolan dengan lelaki yang di cintainya, sungguh beruntung mempunyai suami seorang blogger. Si Pemahat Aksara yang ia banggakan, liburan di depan mata, Raja Ampat yang tadinya cuma angan angan belaka, dengan menulis itu semua ia bisa dapatkan secara Cuma Cuma. Ingin rasanya ia segera bertemu dengan Rudi, dan mengucapkan selaksa terima kasih, ternyata apa yang di ucapkan Rudi puluhan tahun silam telah ia rasakan, membahagiakannya gegara hobi menulis.
Nanti sore akan di siapkan jika Rudi pulang ke rumah, pecak gabus kesukaannya dan juga ehmm semur jengkol tentunya.

1 komentar: